Langkah Awal Pendidikan Inovatif: Mempawah Sukses Gelar “Inisiatif Sekolah STEM Indonesia 2026”

Penyelenggaraan “Inisiatif Sekolah STEM Indonesia 2026” menjadi momentum untuk memperkuat langkah Kabupaten Mempawah dalam menghadirkan pendidikan yang lebih inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Selama tiga hari, para peserta mendapatkan materi yang disusun secara interaktif dan aplikatif.

MEMPAWAH, 12 Agustus 2026 — Pemerintah Kabupaten Mempawah berkolaborasi dengan Yayasan Adi Luhung sukses menyelenggarakan “Inisiatif Sekolah STEM Indonesia 2026” di Gedung Chandramidi, Kabupaten Mempawah, pada 10–12 Agustus 2026.

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah awal dalam mendorong terbentuknya sekolah-sekolah berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di Kabupaten Mempawah.
Program tersebut dirancang untuk membekali para pendidik dengan pemahaman mengenai konsep dasar STEM sekaligus strategi penerapannya di satuan pendidikan, khususnya melalui kegiatan kokurikuler.

Melalui pendekatan ini, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, kreatif, kolaboratif, dan dekat dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disdikporapar) Kabupaten Mempawah, H. Arifin, S.Pd.SD., M.Pd. Sementara itu, narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Arif Hidayat, Ph.D. Ed., selaku Founder and Chairman of Indonesia Association of STEM Education.

Selama tiga hari, para peserta mendapatkan materi yang disusun secara interaktif dan aplikatif. Pada hari pertama, peserta diperkenalkan dengan konsep STEM dan Engineering Design Process (EDP). Tidak berhenti pada pemaparan teori, para guru langsung mengikuti tantangan merancang sebuah perahu menggunakan bahan sederhana berupa kertas, stik es krim, dan karet. Perahu yang dirancang harus mampu menahan beban koin. Tantangan tersebut mengajak peserta memahami bagaimana sebuah persoalan dapat dipecahkan melalui proses merancang, mencoba, menguji, mengevaluasi, dan memperbaiki rancangan.

Melalui praktik tersebut, guru memperoleh pengalaman langsung mengenai pembelajaran berbasis STEM. Pengalaman ini nantinya dapat diadaptasi menjadi aktivitas pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, bekerja sama, serta menemukan solusi terhadap sebuah permasalahan.

Mengembangkan Empati melalui Design Thinking

Memasuki hari kedua, kegiatan berfokus pada konsep Design Thinking. Pendekatan ini menekankan pentingnya empati dalam memahami suatu permasalahan sebelum menentukan solusi.

Peserta diajak mempelajari berbagai contoh penerapan Design Thinking dan STEM dari dalam maupun luar negeri. Selanjutnya, mereka diberikan tantangan untuk menciptakan purwarupa alat bantu potong sayur yang aman bagi penyandang tunanetra.

Tantangan tersebut mendorong peserta untuk tidak hanya memikirkan bentuk sebuah alat, tetapi juga memahami kebutuhan pengguna. Aspek keamanan, kenyamanan, kemudahan penggunaan, hingga manfaat dari alat tersebut menjadi bagian yang perlu dipertimbangkan dalam proses perancangan.

Kegiatan ini memberikan gambaran bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan teknologi yang rumit. Sebuah inovasi dapat lahir dari kemampuan melihat permasalahan di sekitar, memahami kebutuhan orang lain, kemudian merancang solusi yang tepat dan bermanfaat.

Bagi para pendidik, pengalaman tersebut menjadi contoh bagaimana permasalahan nyata dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran.

Siswa dapat diajak untuk mengamati lingkungan, menemukan masalah, berdiskusi, mengembangkan ide, membuat purwarupa, kemudian menguji dan mengevaluasi hasilnya.

Guru Merefleksikan Pengalaman Belajar

Pada hari ketiga, kegiatan berfokus pada aspek pedagogi. Setelah memperoleh pengalaman praktik selama dua hari, peserta diajak merefleksikan bagaimana pengalaman tersebut dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Salah satu filosofi yang ditekankan adalah bahwa siswa belajar dari sebuah pengalaman, sementara guru belajar dari merefleksikan pengalaman tersebut.

Melalui refleksi, guru dapat melihat kembali proses pembelajaran yang telah dilakukan, memahami apa yang berhasil maupun yang masih perlu diperbaiki, serta menentukan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.

Peserta juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya membangun empati dan menghadapi dinamika yang muncul di dalam kelas. Setiap siswa memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda sehingga guru perlu menciptakan ruang pembelajaran yang memungkinkan siswa berkembang secara optimal.

Selain itu, guru didorong untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Kolaborasi dengan teman sebaya juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Dengan pendekatan demikian, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam proses menemukan pengetahuan dan menyelesaikan persoalan.

Menyusun Rencana Tindak Lanjut

Rangkaian pelatihan kemudian diakhiri dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Tahapan ini menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan di lingkungan sekolah.

Melalui RTL, peserta didorong untuk memetakan langkah konkret yang dapat dilakukan setelah pelatihan. Penerapan STEM dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah, karakteristik siswa, serta sumber daya yang tersedia.
Implementasi STEM pun tidak harus selalu menggunakan peralatan canggih.

Kegiatan sederhana yang berangkat dari permasalahan di lingkungan sekitar dapat menjadi awal untuk membangun pembelajaran berbasis STEM.

Keberlanjutan program juga menjadi hal penting. Pendampingan kepada sekolah dan guru diharapkan dapat terus dilakukan sehingga penerapan STEM tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berkembang menjadi bagian dari budaya pembelajaran di sekolah.

Membangun Pendidikan Mempawah yang Inovatif

Penyelenggaraan “Inisiatif Sekolah STEM Indonesia 2026” menjadi momentum untuk memperkuat langkah Kabupaten Mempawah dalam menghadirkan pendidikan yang lebih inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Pendekatan STEM memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan berbagai kemampuan, mulai dari berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, hingga kemampuan memecahkan masalah.Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan teknologi dan tantangan kehidupan yang terus berkembang.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, pendidik, dan berbagai pihak terkait, implementasi STEM diharapkan dapat berkembang secara berkelanjutan di Kabupaten Mempawah.

Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya sekolah-sekolah yang mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu siswa menemukan, mencoba, dan mengembangkan solusi.

Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh terlaksananya pelatihan, tetapi juga oleh bagaimana semangat inovasi tersebut diterapkan di sekolah masing-masing.

Kegiatan “Inisiatif Sekolah STEM Indonesia 2026” kemudian ditutup oleh Riska Tania, S.E., M.A. (atau S.E., M.A.B.), selaku Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Disdikporapar Kabupaten Mempawah.

Dengan adanya program ini, Kabupaten Mempawah diharapkan mampu membangun ekosistem pendidikan yang inovatif, adaptif, kolaboratif, dan siap menghadapi tantangan masa depan, sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk belajar melalui pengalaman dan menciptakan solusi bagi persoalan di sekitarnya.

LINK TERKAIT