
Inovasi Ecobloom karya siswa SMPN 1 Sungai Pinyuh berhasil masuk nominasi kompetisi STEM China-ASEAN dan membawa nama Kabupaten Mempawah ke Chongqing, Tiongkok.
Momen seremoni penghargaan China-ASEAN STEM Innovation and Practice Student Video Competition di Chongqing, Tiongkok.
MEMPAWAH, 2 November 2026 – Siapa sangka, sesuatu yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa dan tidak memiliki nilai lebih, seperti kulit nanas, justru dapat menjadi jalan bagi siswa dari sebuah sekolah di Kabupaten Mempawah untuk melangkah ke panggung internasional.
Dari Sungai Pinyuh, Kalimantan Barat, sebuah gagasan sederhana yang berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan berhasil menarik perhatian dalam ajang China-ASEAN STEM Innovation and Practice Student Video Competition. Gagasan tersebut dikembangkan oleh tim SMP Negeri 1 Sungai Pinyuh melalui proyek inovasi berjudul "Ecobloom: Biodegradable Cat Litter from Pineapple Waste to Support Purslane Growth".
Melalui proyek tersebut, tim SMPN 1 Sungai Pinyuh berhasil masuk sebagai tim nominasi dalam kompetisi video inovasi STEM tingkat internasional yang mempertemukan gagasan dan kreativitas pelajar dari Tiongkok serta negara-negara Asia Tenggara.
Program ini diselenggarakan melalui kolaborasi UNESCO INRULED, SEAMEO STEM-ED, NSTDA Thailand, dan Chongqing Bashu Primary School.
Pencapaian ini bukan hanya tentang sebuah karya yang berhasil mendapatkan perhatian. Lebih dari itu, ada nama Kabupaten Mempawah yang turut dibawa, diperkenalkan, dan diperlihatkan kepada dunia pendidikan Indonesia dan dunia.
Sebuah kebanggaan bahwa dari sekolah di daerah, siswa-siswa Mempawah mampu menunjukkan bahwa kreativitas, kemampuan berpikir ilmiah, dan inovasi tidak mengenal batas geografis.
Berangkat dari Kulit Nanas, Menghadirkan Gagasan Masa Depan
Limbah kulit nanas yang selama ini kerap dipandang sebagai sisa konsumsi diolah menjadi bagian dari gagasan produk biodegradable cat litter atau pasir kucing yang dapat terurai secara alami, dengan keterkaitan pada upaya mendukung pertumbuhan tanaman krokot (purslane).
Di balik proyek ini terdapat proses pembelajaran yang mengajak siswa untuk mengamati persoalan lingkungan, mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatan limbah, mengembangkan ide, serta menyampaikan hasil pemikirannya melalui media digital.
Inilah esensi pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang tidak hanya mempelajari teori di dalam kelas, melainkan membangun kemampuan untuk memahami persoalan nyata dan menawarkan solusi melalui pendekatan ilmiah, teknologi, rekayasa, dan matematika.
Ketika karya tersebut berhasil masuk nominasi kompetisi internasional, gagasan yang berawal dari lingkungan sekitar itu pun mendapatkan kesempatan untuk diperkenalkan lebih luas.
Sebagai bagian dari apresiasi atas pencapaian tersebut, tim SMPN 1 Sungai Pinyuh memperoleh undangan untuk mengikuti China-ASEAN STEM Innovation and Practice Teacher and Student Exchange Programme di Chongqing, Tiongkok.
Delegasi Kabupaten Mempawah terdiri atas enam orang, yakni Khoirun Nisa, S.Pd. selaku guru pendamping, dua siswa yaitu Adhar Patrianur dan Khenzo Lorenzo, Kepala SMPN 1 Sungai Pinyuh Jumarni, S.Pd., serta dua perwakilan Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mempawah, yaitu Riska Tania, S.E., M.AB. selaku Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Endah Widayati, S.Pd., M.Pd. selaku Pengawas Satuan Pendidikan.
Kehadiran unsur sekolah dan dinas pendidikan dalam delegasi ini memperlihatkan bahwa pencapaian tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan bagi siswa dan sekolah, melainkan juga bagian dari perkembangan pendidikan Kabupaten Mempawah.
Di Chongqing, karya siswa SMPN 1 Sungai Pinyuh mendapatkan ruang untuk dipamerkan dan diperkenalkan bersama karya-karya peserta lainnya. Sebuah kesempatan berharga bagi dua siswa Mempawah untuk berdiri di antara pelajar dari berbagai negara dan menunjukkan bahwa mereka juga memiliki gagasan yang layak diperhitungkan.
Menjelajahi Chongqing, Belajar Melampaui Ruang Kelas
Rombongan tiba di Chongqing pada 25 Oktober 2026. Perjalanan internasional ini kemudian diisi dengan serangkaian kegiatan edukatif, pertukaran budaya, pameran karya, serta penguatan kompetensi guru dan siswa.
Pada 26 Oktober, delegasi berkesempatan mengenal lingkungan Chongqing Bashu Primary School, termasuk ruang pameran sejarah dan budaya pendidikan Bashu serta museum anak yang menghadirkan pengalaman belajar secara menarik dan menyenangkan.
Siang harinya menjadi salah satu momen penting melalui seremoni penghargaan yang disiarkan secara langsung. Dalam kesempatan tersebut, siswa SMPN 1 Sungai Pinyuh turut berdiri bersama peserta dari Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara untuk memperkenalkan karya STEM mereka.
Rangkaian kegiatan hari itu dilanjutkan dengan kunjungan ke Panda Breeding Center di Chongqing Zoo dan malam budaya yang mempertemukan keberagaman tradisi serta pengalaman lintas negara.
Pada 27 Oktober, kegiatan berlanjut dengan lokakarya penguatan kompetensi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagi guru. Kegiatan ini memberikan ruang bagi para pendidik untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan teknologi dan pemanfaatannya dalam pembelajaran.
Selain itu, delegasi juga mengikuti pertukaran pengalaman pembelajaran di kelas bersama keluarga relawan tuan rumah, mengunjungi Three Gorges Museum, serta merasakan pengalaman menggunakan kereta ringan khas Chongqing.
Selanjutnya, pada 28 Oktober, rombongan mengunjungi Beibei Natural History Museum dan Jiangbei Science and Technology Museum. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat bagaimana ilmu pengetahuan, sejarah alam, dan teknologi diperkenalkan kepada masyarakat.
Hari itu ditutup dengan waktu bebas di kawasan Shibati, salah satu kawasan bersejarah di Chongqing, sebelum rombongan mempersiapkan perjalanan pulang.
Setiap lokasi yang dikunjungi menghadirkan pengalaman berbeda. Bagi siswa, perjalanan ini menjadi kesempatan belajar secara langsung di luar lingkungan sekolah. Bagi guru dan pendamping, kegiatan ini membuka ruang untuk memperkaya perspektif tentang pembelajaran STEM, pemanfaatan AI, serta praktik pendidikan di lingkungan internasional.
Bukan Sekadar Perjalanan ke Luar Negeri
Ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar perjalanan melintasi negara dan mengunjungi berbagai tempat menarik. Pengalaman di Chongqing memberikan gambaran bahwa pendidikan harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Siswa perlu diberi ruang untuk bereksperimen, berani mengemukakan gagasan, berpikir kritis, dan menghasilkan karya yang berangkat dari persoalan nyata. Sementara itu, guru juga perlu terus mengembangkan kompetensi agar mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Kulit nanas menjadi awal cerita. Kreativitas siswa menjadi penggeraknya. Guru, sekolah, dan dukungan pemerintah daerah menjadi bagian dari perjalanan yang mengantarkan karya tersebut lebih jauh.
SMPN 1 Sungai Pinyuh telah memperlihatkan bahwa anak-anak daerah memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berinovasi, dan berkompetisi di tingkat internasional.
Dari Sungai Pinyuh, membawa nama Mempawah. Dari Mempawah, menyampaikan pesan kepada dunia bahwa inovasi dan prestasi dapat tumbuh dari mana saja.